my story

Minggu, 27 Maret 2011

HIDUP

Ry Kusumaningtyas pada 04 Januari 2011 jam 21:06

Rembulan pucat...
Langit meraja dalam gelap...
Menyisakan celah kosong di relung kelam hatiku...

Bermusim lewat ada mimpi mengisi...
Ada tunas asa tersemai...
Ada jutaan doa terucap bersama derai angan...

Seiring ragu datang menyurutkan langkahku...
Tapi rasa yang kau sedu itu menggilaiku...
Akupun mabuk pesonamu...
Terlena dalam perangkapmu...

Dan kau menjadi guru dari setiap kegagalanku...
Menyentuh kepedihan lukaku...
Kau membuatku mensyukuri semua yang kuterima...

Menoleh ke masa lalu...
Kau menjadikan begitu banyak hikmah tak ternilai..
Di setiap pilihanku....

Saat kusadari keberadaan mereka yang kucintai...
Kau memberiku kekuatan untuk menjadi lebih baik
Di setiap detik yang terlewati dan menjadikannya berharga...

Menjenguk ke kedalaman jiwaku, ke setiap perenunganku...
Aku menyadari bahwa cermin terbaik adalah diriku sendiri...
Hingga aku tak lagi menyalahkan orang lain atas pilihanku...

Dari kebeningan air..aku belajar ketenangan...
Dari kekerasan batu karang...aku belajar ketegaran...
Dari kesuburan tanah...aku belajar kehidupan...
Dari padi yang merunduk...aku belajar rendah hati...
Dari ulat ke kupu-kupu...aku belajar merubah diriku menjadi lebih baik...

Dari-Mu...
Sang Maha Pencipta...
Aku belajar tentang keihlasan, kesabaran, keimanan...
Dan ketidaksempurnaanku sebagai hamba...
Karena kesempurnaan hanya milik-Mu...

Hidup...
Memberiku begitu banyak...







Sebuah Perenungan

oleh Ry Kusumaningtyas pada 09 Maret 2011 jam 15:39

Beribu-ribu jam, aku berdiri di sini
Di tepi jalan yang sama dengan udara yang sama...
Menunggu sendiri..
Dan berharap matahari akan bersinar
Tidak terlalu terik membakar
Sekedar menghangatkan kebekuan jiwaku di balik mantel senyuman

Aku menggigil...
Mendung begitu nyaman bertahta
Menghiasi langit dalam putih dan kelabu
Membuat daun-daun hijau seakan beku
Mengaburkan jutaan warna meredup sayu
Dan menghanyutkan banyak mimpi...

Aku bertanya...
Pada sebuah wajah yang terpantul di genangan air
Apa yang kau inginkan?
Apa yang kau harapkan?
Apa yang akan kau lakukan?
Wajah itu memudar terinjak di kakiku...

Apakah aku harus terus memaksakan skenario kehidupan yang kutulis sendiri?
Atau haruskah aku menyerah pada skenario yang tertulis takdir?
Dan membiarkan tangan-tangan ajaib harapan, membisikkan rahasia-rahasia kecil kebesaran Tuhan?

Beribu-ribu jam, aku masih berdiri di sini...
Di tepi jalan yang sama dengan udara yang sama...
Terdiam dalam renungan panjang..
Bahwa ikhlas tak akan pernah dimulai tanpa niat..
Bahwa niat tak akan ada tanpa ikhlas mengiringi...
Bahwa ikhlas dimulai dengan hilangnya semua harapanku

Aku tak akan menemukan keikhlasan itu, selama aku masih merasa ikhlas...
Ikhlas haruslah kosong dan bersih..
Ikhlas adalah tanpa rasa, tanpa wajah...
Tanpa sedikitpun harapan terhadap apa saja yang ada
Sesuatu yang murni..yang akan menjadi puncak kualitas seorang manusia

Tapi bisakah aku?
Sementara bagian dari hatiku masih saja menjerit-jerit..
Berteriak penuh harapan akan dapat mengintip sedikit rahasia Tuhan
Dan membutuhkan pengakuan atas keikhlasan itu...
Sedangkan ikhlas hanya membutuhkan satu kesaksian..
“Dan cukuplah Allah sebagai saksi”

Tuhan,
Bila aku memang harus menyerah pada sesuatu yang bukan mauku
Bila aku harus menerima sesuatu yang tak ingin kuterima...
Bila aku harus melepas sesuatu yang tak sanggup kulepas...
Aku hanya ingin berharap menjadi bagian dari ikhlas itu
Dengan sedikit pinta bisa berbicara pada-MU
Bukan sebagai hamba...
Tidak dengan bahasa manusia...
Tapi sebagai kekasih yang mencintai-Mu
Yang membutuhkan pelukan-Mu
Aku ingin menjadi bagian dari mereka yang menjadi kecintaan-Mu..

Aku telah mencari-Mu, Tuhan
Di sepanjang jalan ini..
Dalam beribu-ribu jam yang tak terhitung...
Dan aku ingin menemukan-Mu di setiap penghujung tanyaku...
Aku ingin selalu menemukan-Mu...